Feature Humanis
Batam, Topiknusantara.com,- Belakangan ini, Iman Sutiawan menjadi sorotan publik setelah video dirinya mengendarai motor tanpa helm viral di media sosial. Kritik datang dari berbagai arah. Sebagian kecewa, sebagian marah, bahkan tidak sedikit yang langsung menghakimi keseluruhan pribadinya hanya dari satu kejadian tersebut.
Sebagai pejabat publik, kritik tentu adalah hal yang wajar. Kesalahan tetap harus diakui sebagai pelajaran bersama. Namun di tengah derasnya hujatan yang berkembang di media sosial, masyarakat juga perlu melihat persoalan ini secara utuh dan lebih berimbang.
Faktanya, pelanggaran tersebut telah langsung ditindak aparat kepolisian tanpa pandang bulu. Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono menegaskan bahwa penindakan sudah dilakukan sejak Kamis, 7 Mei 2026.
Petugas Satlantas menghentikan kendaraan yang dikendarai Iman Sutiawan di kawasan Simpang Rosedale, Pos 908, karena tidak menggunakan helm saat berkendara. Saat dilakukan pemeriksaan, yang bersangkutan juga tidak dapat menunjukkan SIM dan hanya membawa STNK. Karena itu, petugas langsung melakukan penindakan tilang sesuai aturan yang berlaku.
Kapolresta Barelang juga memastikan bahwa tidak ada perlakuan khusus terhadap siapa pun.
“Tidak pandang bulu. Semua warga negara sama di mata hukum, termasuk dalam pelanggaran lalu lintas,” tegas Kombes Pol Anggoro Wicaksono.
Artinya, proses hukum sudah berjalan. Kesalahan telah ditindak sesuai prosedur. Tidak ada upaya menghindar, tidak ada perlakuan istimewa, dan hukum tetap ditegakkan sebagaimana mestinya.
Namun di balik kontroversi yang sedang ramai diperbincangkan hari ini, ada perjalanan panjang pengabdian sosial yang selama ini jarang mendapat sorotan.
Iman Sutiawan dikenal cukup aktif turun langsung ke tengah masyarakat, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau penyangga di Kepulauan Riau. Dalam berbagai kesempatan, ia terlibat dalam kegiatan bantuan sosial, penyaluran sembako, santunan anak yatim, hingga memperjuangkan aspirasi masyarakat kecil melalui reses dan kunjungan lapangan.
Pada momentum HUT Gerindra 2026 misalnya, ribuan paket sembako disalurkan kepada masyarakat kurang mampu di Kepri. Tidak hanya di pusat kota, tetapi juga menjangkau masyarakat pesisir yang selama ini sering luput dari perhatian.
Namun mungkin yang paling menyentuh adalah kepeduliannya terhadap Pulau Kasu, kampung halamannya sendiri di Kecamatan Belakang Padang, Batam.
Di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan di wilayah pulau, pembangunan Pondok Pesantren Nurul Iman menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat pesisir. Pesantren tersebut bukan sekadar bangunan pendidikan, tetapi menjadi harapan agar anak-anak pulau memiliki akses pendidikan agama yang lebih baik tanpa harus meninggalkan kampung halaman mereka.
Iman Sutiawan terlihat aktif memantau pembangunan pesantren tersebut dan ikut mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunannya. Pemerintah Provinsi Kepri juga turut mendukung pengembangan fasilitas pesantren dan bantuan sosial bagi masyarakat pesisir di wilayah tersebut.
Selain itu, berbagai bantuan kepada nelayan, dukungan BPJS ketenagakerjaan, hingga perhatian terhadap pembangunan kawasan pulau juga terus diperjuangkan melalui berbagai kunjungan dan kegiatan sosial.
Sayangnya, hal-hal seperti ini sering tidak menjadi viral.
Tidak banyak kamera datang ketika seseorang membantu masyarakat kecil.
Tidak banyak yang menulis ketika anak yatim disantuni.
Tidak banyak yang memberi perhatian ketika masyarakat pulau diperjuangkan.
Tetapi ketika satu kesalahan terjadi, media sosial berubah menjadi ruang penghakiman tanpa akhir.
Padahal manusia tidak pernah hanya terdiri dari satu kesalahan.
Mengkritik pejabat publik tentu penting dalam demokrasi. Namun kritik yang sehat seharusnya tidak menghapus seluruh sisi baik seseorang, apalagi sampai menutup mata terhadap pengabdian yang pernah diberikan kepada masyarakat.
Karena bisa jadi, orang yang hari ini ramai dihujat adalah orang yang diam-diam telah membantu banyak masyarakat tanpa pernah meminta tepuk tangan.
R.A SIHOMBING

